Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, telah menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, terutama dengan perubahan gaya hidup modern. Kondisi ini terjadi ketika desakan darah pada arteri berlebihan dan hampir tidak konstan, seringkali berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas. Ini menjadikan hipertensi sebagai ancaman tersembunyi yang dapat memicu penyakit serius lainnya seperti penyakit jantung, gagal ginjal, diabetes melitus, dan stroke. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,28 miliar orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi , dengan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan lebih dari 63 juta penduduk Indonesia mengalaminya.
Tantangan utama dalam menghadapi hipertensi adalah rendahnya kesadaran masyarakat , karena banyak penderita tidak merasakan gejala sehingga diagnosis dan penanganan seringkali terlambat. Faktor risiko hipertensi meliputi aspek yang tidak dapat diubah seperti usia, genetik, dan jenis kelamin, serta faktor gaya hidup yang dominan seperti merokok, diet tidak sehat, dan stres. Hipertensi dapat berkembang melalui berbagai mekanisme kompleks, termasuk peran
Angiotensin Converting Enzyme (ACE) dalam pembentukan Angiotensin II yang memengaruhi volume cairan dan kontraksi pembuluh darah , serta dipengaruhi oleh volume intravaskular, sistem saraf otonom, dan kondisi dinding pembuluh darah. Gangguan pada sistem ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan kerusakan organ.
Untuk mempermudah penanganan, WHO merekomendasikan klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebab (primer dan sekunder), bentuk (sistolik, diastolik, campuran), dan tingkat keparahan. Hipertensi adalah masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian serius. Penanganan yang efektif mencakup deteksi dini, modifikasi gaya hidup, dan terapi medis yang tepat, yang bertujuan untuk mengurangi risiko komplikasi serius dan meningkatkan kualitas hidup manusia.



